Balikpapan, 26 April 2026 — Di tengah laju pembangunan dan tekanan eksploitasi sumber daya alam di Kalimantan, pesan tentang harmoni manusia dan alam kembali digaungkan dalam Festival Budaya Dayak yang digelar Sekolah Alam Balikpapan, Minggu (26/4).
Puncak kegiatan ini menghadirkan talkshow bertema “Harmoni Suku Dayak dengan Alam”, dengan narasumber utama Lampang Bilung, Ketua Lembaga Adat Dayak Kenyah Kota Balikpapan.
Di hadapan ratusan peserta, ia menyampaikan pesan yang relevansinya kian mendesak di era sekarang.
“Dalam adat kami, alam bukan untuk dieksploitasi. Alam adalah bagian dari kehidupan. Merusaknya berarti merusak diri sendiri,” tegas Lampang.
Pernyataan tersebut menjadi refleksi penting di tengah realitas Kalimantan yang selama bertahun-tahun menghadapi deforestasi, pertambangan, dan degradasi lingkungan.
Kearifan Lokal vs Tekanan Pembangunan
Dalam pemaparannya, Lampang mengingatkan bahwa masyarakat Dayak sejak lama memiliki sistem nilai yang menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup dan kelestarian alam.
Prinsip “ambil secukupnya, jaga selebihnya” bukan sekadar filosofi, melainkan praktik hidup yang diwariskan lintas generasi.
Namun, nilai tersebut kini berhadapan dengan arus modernisasi yang sering kali mengabaikan keseimbangan ekologis.
Talkshow ini secara tidak langsung menyoroti kesenjangan antara kearifan lokal dan praktik pembangunan yang cenderung eksploitatif.
Budaya Tak Sekadar Seremonial
Berbeda dari festival budaya pada umumnya, kegiatan ini tidak berhenti pada pertunjukan. Sekolah Alam Balikpapan mencoba mendorong pemahaman yang lebih dalam tentang makna budaya sebagai sistem nilai.
Mulai dari lomba tari, permainan tradisional, hingga pertunjukan musik sape, seluruh rangkaian acara diarahkan sebagai media edukasi bagi generasi muda.
Panitia menegaskan bahwa pelestarian budaya harus melampaui seremoni.
“Budaya tidak boleh hanya ditampilkan, tetapi harus dipahami dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari,” menjadi semangat yang diusung dalam festival ini.
Figur Perempuan di Garda Pelestarian Budaya
Lampang Bilung bukan sekadar narasumber.
Dengan pengalaman panjang di berbagai organisasi adat dan seni, ia aktif dalam pelatihan kerajinan, pelestarian bahasa Kenyah, hingga advokasi nilai budaya di masyarakat.
Perannya menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas komunitas adat, tetapi juga bagian dari gerakan sosial yang lebih luas.
Pesan untuk Generasi Muda: Jangan Terputus dari Akar
Di hadapan para siswa, Lampang Bilung menyampaikan pesan yang sederhana namun mendasar: generasi muda tidak boleh tercerabut dari akar budaya dan kepedulian terhadap lingkungan. “Kalau budaya hilang, kita kehilangan jati diri. Kalau alam rusak, kita kehilangan masa depan,” ujarnya.
Pesan ini menjadi penegasan bahwa krisis lingkungan bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga krisis nilai.
Momentum Refleksi Festival Budaya Dayak di Balikpapan menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Ia hadir sebagai ruang refleksi—bahwa di tengah modernitas, ada kearifan yang justru semakin relevan untuk dijadikan rujukan.
Ketika pembangunan terus berjalan, pertanyaan yang mengemuka menjadi semakin jelas: apakah manusia masih mampu hidup selaras dengan alam, atau justru semakin menjauh darinya?
Penulis : Antung Amrullah

