News Umum

Wartawan 60 Tahun ke Atas

Catatan Rizal Effendi

SAYA nekad terbang ke Jakarta, Kamis (16/4). Padahal tiket susah terutama pulangnya. Saya menghadiri Deklarasi Serikat Wartawan Senior Indonesia (SWSI) atau SW60+, yang berlangsung di LSPR Communication & Business Institute Kampus Sudirman Park, Jumat (17/4) sore.

SW60+ itu nama lain dari SWSI. Maksudnya wartawan yang berusia 60 tahun ke atas. Itu semacam syarat kalau mau bergabung menjadi anggota SWSI. “Saya masih 13 tahun lagi baru bisa bergabung,” kata Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), yang hadir di acara tersebut.

Meutya dulu wartawan Metro TV.  Dia terkenal gara-gara disandera kelompok bersenjata di Irak ketika bertugas di sana Februari tahun 2005. Belakangan dia menjadi anggota DPR RI dari Fraksi Golkar. Sebelum diangkat menjadi Menteri, dia adalah Ketua Komisi I yang membidangi masalah komunikasi. “Kita siap bekerjasama dengan SWSI,” ujar Meutya memberi tawaran.

Di Kaltim, ada beberapa wartawan berusia 60+. Selain saya, ada Pak Alwy AS, Ibrahim Konong, Ibrahimsyah Rahman, Syafruddin Pernyata, Maman S  Putra, Sjarifuddin HS, Syafril Teha Noer, Eddy Alioeddin, Haris Samtah, Rusdiansyah Aras, Asran dan beberapa nama lagi.

Undangan untuk saya dikirim Bang Heddy Lugito, salah seorang pendiri SWSI lewat Mas Alfian, wartawan Balikpapan. Saya senang sekali. Soalnya bisa bertemu sejumlah wartawan senior yang hebat-hebat pengalamannya. Ketika datang saya barengan dengan Panda Nababan, wartawan Sinar Harapan dan Media Indonesia yang berusia 82 tahun. Dia peraih Penghargaan Jurnalistik Adinegoro di tahun 1976, yang kini aktif di Partai PDI Perjuangan.

Sayang bos saya, Pak Dahlan Iskan (DI) tidak datang. Dia berusia 74 tahun. Suhunya Majalah Tempo, Goenawan Mohamad (84) juga tak kelihatan. Keduanya punya pengalaman jurnalistik segudang dan sampai sekarang masih aktif menulis.

Sebelum berangkat saya ditugasi DI mewakili dia pada RUPS Kaltim Post Group di Balikpapan. Sekalian bernostalgia dengan teman-teman setelah puluhan tahun saya tak lagi di sana. Saya meninggalkan Kaltim Post setelah terpilih menjadi Wakil Wali Kota Balikpapan tahun 2006.

SWSI diketuai Wahyu Muryadi, mantan Pimred Majalah Tempo. Pernah menjadi Ketua Forum Pemred se Indonesia.  Di luar dunia wartawan, dia pernah jadi Komisaris PT Hutama Karya dan Kepala Protokol Instana Kepresidenan era Gus Dur. Wahyu juga populer ketika membawakan acara e-Talkshow di stasiun televisi  berita tvOne.  

Sedang Sekum SWSI didaulat Budiman Tanurejo, mantan Pimred Kompas.  Sebagai Ketua Badan Pendiri adalah Suryopratomo, mantan Pimred Kompas dan Metro TV yang sempat menjadi Duta Besar Indonesia di Singapura.

Para pendiri lainnya di antaranya Karni Ilyas, Marah Sakti Siregar, Don Bosco Salamun, Ilham Bintang, Abdullah Alamudi, Banjar Chairuddin, Husein Abdullah, Kemal Gani, Rahmi Hidayat, Marthen Selamet dan Toto Irianto.

Saya duduk satu meja dengan sejumlah wartawan senior. Di antaranya Ilham Bintang, mantan Pimred Jawa Pos Arif Affandi, yang sempat menjadi Wakil Wali Kota Surabaya. Ada juga Erros Djarot, mantan Pimred Majalah Detik yang juga sutradara film serta Linda Jalil, mantan wartawati Tempo yang bertugas di Istana, Made Suarjana (mantan wartawan Tempo/Gatra) dan Abdul Aziz dari Majalah Detik.

Pada saat deklarasi, datang juga sejumlah sahabat dan pimpinan organisasi wartawan. Di antaranya Anies Baswedan, Susi Pudjiastuti (mantan Menteri Kelautan dan Perikanan), Saleh Husin (mantan Menteri Perindustrian), budayawan Sujiwo Tejo,  Bambang Soesatyo (Bamsoet), mantan Pimred Majalah Ekonomi Info Bisnis yang sekarang jadi anggota DPR serta Ahmad Kurnia, anggota DPR dari Fraksi Golkar.

Ada juga Ketua Dewan Pers Prof Komaruddin Hidayat, Ketua PWI Pusat Akhmad Munir, Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) M Qodari, dan beberapa tokoh lainnya.

TIDAK PERNAH MATI

Suryopratomo mengungkapkan mengapa SWSI lahir? Dia mengatakan, organisasi ini lahir dari keresahan wartawan senior yang merasa tidak lagi memiliki ruang untuk berkarya dan menyampaikan gagasan. Dari pertemuan kongkow-kongkow di Cikini, sampai akhirnya dideklarasikan.

“Hanya seminggu kita mengajukan permohonan ke Dirjen AHU Kementerian Hukum, langsung keluar izin badan hukumnya,” kata Wahyu Muryadi.

Cak Lontong yang diundang menghibur para wartawan senior memberikan tanggapan kocak. “Izinnya cepat keluar bukan apa-apa, tapi takut orang yang mengajukan sudah tiada,” katanya membuat gerr yang hadir.

Menurut Suryopratomo, SWSI adalah bagian dari panggilan hidup wartawan yang tidak pernah berhenti untuk berkarya. Itu sebabnya tagline yang diusung SWSI adalah “Never Sleep, Never Die.” Bahwa wartawan itu tidak pernah tidur dan tidak pernah mati dalam membuat karya jurnalistik.

Dia juga menegaskan bahwa SWSI tidak dibentuk sebagai oposisi pemerintah, melainkan sebagai mitra kritis yang konstruktif. “Kehadiran wartawan senior penting untuk menjaga akal sehat publik, terutama menuju visi Indonesia Emas 2045,” tandasnya.

Menteri Meutya Hafid menilai para wartawan senior sangat penting dalam menjaga kualitas informasi di tengah derasnya arus informasi digital. “SWSI juga dapat menjadi jembatan antar generasi wartawan,” tambahnya.

Soal wadah untuk wartawan senior, sebenarnya lebih dulu dirintis di Kaltim. Sudah dua tahun ini diadakan pertemuan bertema “Wartawan Legend.” Pertemuan pertama digelar di Balikpapan, menyusul kemudian di Bontang. Hanya forumnya bersifat silaturahmi tidak diformalkan seperti SWSI.

Selesai menghadiri deklarasi SWSI, saya langsung ke Bandara Soekarno-Hatta. Pesawat Lion yang saya tumpangi berangkat jam 01.00 dinihari. Itupun harus transit 8 jam di Bandara Sultan Hasanuddin, Makasar. Sekitar pukul 15.00 Wita saya baru mendarat di Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan. Kali ini saya benar-benar menjadi wartawan yang tidak pernah tidur sehari semalam.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *