BALIKPAPAN—Direktorat Pembelajaran Kemahasiswaan (Belmawa) Ditjen Dikti Kemdiktisaintek menggelar Workshop Penguatan Disabilitas Batch 2 Tahun 2025 di Kampus Universitas Balikpapan pada tanggal 8-9 Oktober 2025. Kegiatan ini melibatkan perwakilan dari berbagai perguruan tinggi di wilayah LLDIKTI XI Kalimantan, bertujuan untuk memperkuat layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas di perguruan tinggi.

Acara dibuka dengan sambutan dari Rektor Universitas Balikpapan, Dr. Ir. Isradi Zainal, dan Direktur Belmawa Ditjen Dikti Kemdiktisaintek, Dr. Beny Bandanadjaja, S.T., M.T., yang hadir secara daring. Kepala LLDIKTI Wilayah XI, Dr. Drs. Muhammad Akbar, juga turut menyampaikan sambutan secara daring. Selain itu, sejumlah narasumber berkompeten dalam bidang disabilitas turut berbagi pengetahuan, di antaranya Prof. Budiyanto dari Universitas Negeri Surabaya, Prof. Endang Rochyadi dari Universitas Pendidikan Indonesia, dan Prof. Asep Supena dari Universitas Negeri Jakarta, serta beberapa pakar lainnya.
Dr. Muhammad Akbar dalam sambutannya menyampaikan pentingnya memberikan akses pendidikan yang setara kepada mahasiswa penyandang disabilitas. Ia menyatakan bahwa meskipun beberapa perguruan tinggi, termasuk Uniba, telah berupaya memberikan layanan pendidikan yang baik, masih ada ruang untuk peningkatan sarana dan prasarana yang mendukung mahasiswa dengan kebutuhan khusus.

“Workshop ini diharapkan bisa memberikan pemahaman mendalam mengenai cara memberikan layanan kepada mahasiswa disabilitas. Kami berharap perguruan tinggi di Kalimantan Timur, khususnya, dapat mengimplementasikan hasil workshop ini dalam memperbaiki dan meningkatkan layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas,” ujar Dr. Akbar.
Dalam kesempatan yang sama, Dr. Beny Bandanadjaja menekankan pentingnya komitmen perguruan tinggi untuk menyediakan layanan yang inklusif sesuai dengan regulasi yang ada, seperti Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 48 Tahun 2023. Ia mengingatkan bahwa setiap perguruan tinggi wajib memberikan layanan yang memadai agar mahasiswa penyandang disabilitas bisa mengakses pendidikan tinggi secara adil dan setara.

“Melalui workshop ini, kami berharap peserta dapat memahami lebih dalam tentang kebijakan pendidikan inklusif, serta teknik-teknik praktis dalam mengelola pembelajaran yang mendukung keberagaman disabilitas,” ujar Dr. Beny.
Rektor Universitas Balikpapan juga menambahkan bahwa meskipun sebagian besar perguruan tinggi sudah memberikan layanan yang cukup baik untuk mahasiswa disabilitas, workshop ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan tersebut. Menurutnya, peningkatan layanan tidak hanya terkait dengan penyediaan Unit Layanan Disabilitas, tetapi juga penting untuk memenuhi standar dan aturan yang berlaku, baik di tingkat nasional maupun lokal.

“Layanan kepada mahasiswa disabilitas harus terus ditingkatkan. Tidak hanya dari sisi fasilitas, tetapi juga dari segi budaya kampus yang inklusif. Dengan begitu, mahasiswa disabilitas dapat merasa nyaman dan diterima sepenuhnya dalam lingkungan pendidikan tinggi,” tegas Rektor Uniba.
Workshop ini kemudian dilanjutkan dengan sesi materi dari para ahli. Prof. Munawir Yusuf membahas kebijakan pendidikan inklusif di perguruan tinggi. Dr. Hartini Nara yang memberikan materi mengenai ragam mahasiswa disabilitas. Selanjutnya, Prof. Endang Rochyadi memaparkan tentang profil disabilitas dalam perspektif pendidikan khusus. Arsy Anggrellanggi membahas aksesibilitas layanan kampus ramah disabilitas. Sesi terakhir diisi dengan pemaparan mengenai akomodasi pembelajaran yang layak bagi mahasiswa disabilitas oleh Prof. Budiyanto.

Di penghujung acara, Wakil Rektor IV Universitas Balikpapan, Ir. Rahmat Rusli, S.T., M.T., mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam suksesnya acara ini. Ia berharap workshop ini dapat berlanjut dan membentuk diskusi yang berkelanjutan demi kemajuan layanan pendidikan bagi mahasiswa disabilitas di masa depan.
“Penyelenggaraan workshop ini adalah langkah yang penting. Kami di Universitas Balikpapan juga memiliki tanggung jawab moral terhadap mahasiswa penyandang disabilitas, baik selama mereka studi di kampus ini maupun setelah mereka lulus,” pungkasnya.
Dengan kegiatan ini, diharapkan perguruan tinggi di wilayah LLDIKTI XI semakin siap untuk menjadi lembaga pendidikan yang inklusif dan ramah bagi semua mahasiswa, tanpa terkecuali mereka yang memiliki kebutuhan khusus.