Menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri, aktivitas konsumsi masyarakat biasanya meningkat secara signifikan. Tradisi membeli pakaian baru, menyiapkan hidangan khas seperti Ketupat dan Opor Ayam, hingga berbagi hampers kepada keluarga dan kerabat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari suasana perayaan.
Namun di balik tradisi tersebut, muncul fenomena impulsive buying atau perilaku pembelian secara spontan tanpa perencanaan yang semakin marak terjadi. Fenomena ini tidak hanya dipicu oleh kebutuhan, tetapi juga oleh faktor psikologis, sosial, serta strategi pemasaran yang semakin agresif.
Pakar Pendidikan Ekonomi, Dr. Indrayani, M.Pd, menjelaskan bahwa dalam kajian ekonomi klasik, perilaku konsumsi masyarakat sebenarnya dapat dijelaskan melalui konsep rasionalitas ekonomi yang dikemukakan oleh Adam Smith. Konsep tersebut kemudian berkembang dalam teori homo economicus, yang menggambarkan individu sebagai pelaku ekonomi yang rasional dan mampu mengambil keputusan ekonomi secara logis untuk memaksimalkan kepuasan dengan sumber daya yang terbatas. “Dalam kondisi ideal, konsumen akan mempertimbangkan prioritas kebutuhan, kemampuan finansial, serta manfaat jangka panjang sebelum melakukan pembelian,” jelasnya.
Namun dalam praktiknya, perilaku konsumsi manusia tidak selalu rasional. Kajian dalam bidang ekonomi perilaku menunjukkan bahwa keputusan ekonomi sering kali dipengaruhi oleh emosi, persepsi, dan dorongan sesaat. Hal ini juga dijelaskan oleh ekonom sekaligus peraih Nobel, Daniel Kahneman, yang menyatakan bahwa faktor psikologis memiliki pengaruh besar dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Menjelang Idul Fitri, berbagai promosi seperti diskon besar, flash sale, hingga kampanye pemasaran dari platform belanja digital semakin mendorong masyarakat untuk melakukan pembelian impulsif. Selain itu, adanya Tunjangan Hari Raya (THR) juga meningkatkan daya beli masyarakat dalam waktu singkat.
Dr. Indrayani menilai bahwa faktor budaya juga memiliki peran penting. Dalam banyak masyarakat, Idul Fitri sering dipandang sebagai momentum untuk menunjukkan kebahagiaan melalui konsumsi, seperti mengenakan pakaian baru atau menyajikan hidangan yang berlimpah.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya pemahaman mengenai rasionalitas konsumsi dalam perspektif pendidikan ekonomi. Masyarakat perlu mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan agar tidak terjebak pada perilaku konsumsi yang berlebihan.
“Literasi ekonomi sangat penting untuk membangun kebiasaan konsumsi yang sehat. Masyarakat perlu memahami perencanaan keuangan, menyusun skala prioritas, serta mengendalikan diri dalam berbelanja,” ujarnya.
Menurutnya, nilai utama Idul Fitri sejatinya bukan terletak pada kemewahan konsumsi, melainkan pada makna spiritual, kebersamaan, dan kepedulian sosial. Dengan perilaku konsumsi yang bijak, masyarakat dapat merayakan hari kemenangan tanpa harus menghadapi tekanan ekonomi setelahnya.
“Merayakan Idul Fitri tidak harus dengan pemborosan. Yang terpenting adalah keberkahan, kebersamaan, dan rasa syukur,” tutup Dr. Indrayani.
