News Umum

Riset Dosen STIE Balikpapan dan Dosen Sastra Inggris Universitas Balikpapan Temukan Pola Berbeda Skor TOEFL Mahasiswa Laki-Laki dan Perempuan

BALIKPAPAN–Kemampuan bahasa Inggris kini menjadi syarat penting dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Banyak perguruan tinggi mewajibkan mahasiswa mencapai skor tertentu dalam tes TOEFL sebelum lulus. Namun karena tes resmi dari Educational Testing Service (ETS) relatif mahal dan tidak selalu mudah diakses, banyak kampus menggunakan TOEFL Prediction Test berbasis format PBT (Paper-Based Test) sebagai alternatif.

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di Prologue: Journal on Language and Literature mengungkap temuan menarik: terdapat perbedaan pola peningkatan skor antara mahasiswa laki-laki dan perempuan setelah mengikuti program persiapan TOEFL selama satu bulan.


Penelitian ini dilakukan oleh Dosen STIEPAN Fitrahnanda Ayubadiah dan Dosen Prodi Sastra Inggris UNIBA Era Wahyu Ningsih terhadap 261 mahasiswa sarjana di salah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia.


Sebanyak 261 mahasiswa mengikuti pre-test sebelum program persiapan TOEFL dan post-test setelah program selesai. Tes yang digunakan meniru format TOEFL PBT dengan tiga bagian utama:
• Listening Comprehension
• Structure and Written Expression
• Reading Comprehension


Peneliti kemudian membandingkan rata-rata peningkatan skor (gain score) antara mahasiswa laki-laki dan perempuan pada setiap bagian tes.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa:
Mahasiswa perempuan unggul dalam Listening dan Structure.


Mereka menunjukkan peningkatan skor yang lebih konsisten pada dua bagian ini. Hal ini diduga berkaitan dengan tingkat partisipasi kelas yang lebih aktif—seperti mencatat, bertanya, dan mengikuti instruksi dosen secara detail.


Mahasiswa laki-laki lebih unggul dalam Reading dan skor total.
Meskipun cenderung lebih pasif di kelas, mahasiswa laki-laki justru menunjukkan lonjakan peningkatan lebih besar pada bagian Reading dan total skor keseluruhan.


Temuan ini memperlihatkan bahwa peningkatan kemampuan tidak selalu linear dan tidak selalu dipengaruhi oleh keaktifan yang terlihat di kelas.
Peran Strategi Belajar dan Budaya Akademik


Dalam kajian literatur, peneliti mengacu pada teori identitas dan “investment” dalam pembelajaran bahasa dari Bonny Norton. Teori ini menjelaskan bahwa cara mahasiswa “berinvestasi” dalam belajar dipengaruhi oleh identitas dan harapan masa depan mereka.


Mahasiswa perempuan cenderung menunjukkan strategi metakognitif—seperti mengatur belajar dan mengevaluasi diri—yang mendukung bagian Listening dan Structure.


Sementara itu, mahasiswa laki-laki tampak lebih responsif terhadap tugas yang bersifat inferensial dan kompetitif, terutama pada bagian Reading.


Menariknya, penggunaan platform kuis digital seperti Quizziz juga menunjukkan pola berbeda. Mahasiswa perempuan lebih fokus pada akurasi, sedangkan mahasiswa laki-laki lebih terdorong oleh aspek kompetisi dan kecepatan menjawab.


Implikasi untuk Program Persiapan TOEFL
Temuan ini menegaskan bahwa program persiapan TOEFL tidak bisa menggunakan pendekatan “satu metode untuk semua”.

Diperlukan pendekatan yang lebih responsif terhadap perbedaan gaya belajar.


Beberapa rekomendasi yang diajukan antara lain:
• Memberikan pelatihan strategi membaca eksplisit bagi mahasiswa perempuan.
• Meningkatkan latihan listening dan grammar berbasis kolaboratif bagi mahasiswa laki-laki.
• Mengombinasikan metode kompetitif dan reflektif dalam pembelajaran digital.
• Meninjau kembali desain TOEFL Prediction Test agar tetap adil dan minim bias gender.


Lebih dari Sekadar Angka
Penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan gender bukan soal kemampuan lebih atau kurang, melainkan soal bagaimana mahasiswa berinteraksi dengan proses belajar dan format tes.


Dalam konteks pendidikan tinggi Indonesia yang semakin kompetitif, pemahaman seperti ini sangat penting. Program persiapan bahasa Inggris yang dirancang secara inklusif dan berbasis data akan membantu semua mahasiswa—baik laki-laki maupun perempuan—mencapai potensi terbaiknya.


Dengan kata lain, keberhasilan dalam TOEFL bukan hanya soal kecerdasan bahasa, tetapi juga strategi, identitas, dan cara belajar yang selaras dengan kebutuhan masing-masing individu.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *