Kutai Kartanegara,–Dr. Indrayani hadir sebagai narasumber dalam Forum Konsultasi dan Kolaborasi UMKM yang diselenggarakan oleh Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) di Kecamatan Samboja dan Samboja Barat, (9/12/2025).
Dr. Indrayani yang dikenal sebagai seorang ahli pemberdayaan masyarakat dan narasumber di berbagai forum. Ia tampil sebagai pemateri di Forum Konsultasi dan Kolaborasi UMKM. Di hadapan para peserta Ia mengungkapkan pentingnya kemitraan strategis antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga keuangan dalam memperkuat ekosistem usaha lokal di Kecamatan Samboja dan Samboja Barat, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Forum ini diselenggarakan oleh Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), bertujuan untuk memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk berdialog langsung dengan pihak pemerintah dalam menghadapi tantangan dan peluang yang ada menjelang pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
Acara dibuka secara resmi oleh Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat IKN Nusantara, dihadiri juga oleh Camat Samboja, Camat Samboja Barat, serta Lurah Kampung Lama. Deputi Pemberdayaan Masyarakat IKN Nusantara dalam sambutannya menekankan bahwa salah satu prioritas dalam pembangunan IKN adalah memperkuat ekonomi daerah penyangga, termasuk dengan memberdayakan sektor UMKM yang ada di sekitar kawasan IKN. “UMKM memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan ekonomi daerah. Kami berharap forum ini dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan potensi UMKM dengan peluang besar yang ada di IKN,” ungkap Deputi Pemberdayaan Masyarakat IKN Nusantara.
Dalam sesi paparan, Dr. Indrayani menyampaikan bahwa UMKM di wilayah Samboja dan Samboja Barat memiliki potensi yang luar biasa untuk berkembang, khususnya di sektor kuliner, kerajinan, dan jasa kreatif. Namun, ia mengingatkan bahwa terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi agar UMKM di daerah ini dapat bersaing dengan pelaku usaha lainnya di tingkat nasional maupun internasional. “Tantangan terbesar yang dihadapi oleh UMKM di wilayah ini adalah terbatasnya akses permodalan, pemasaran yang kurang efektif, dan keterbatasan peralatan produksi yang tidak memadai. Ketiga hal ini harus menjadi perhatian utama dalam setiap langkah pemberdayaan UMKM,” jelas Dr. Indrayani.

Menurutnya, untuk mengatasi masalah permodalan, perlu adanya dukungan dari lembaga keuangan dengan skema pembiayaan yang ramah bagi UMKM, termasuk pinjaman dengan bunga rendah atau program pembiayaan berbasis kemitraan. Selain itu, dalam aspek pemasaran, UMKM perlu didorong untuk memanfaatkan platform digital agar produk mereka dapat lebih mudah diakses oleh pasar yang lebih luas.

Dr. Indrayani juga menggarisbawahi pentingnya kemitraan strategis antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga keuangan untuk menciptakan lingkungan usaha yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Dengan adanya kemitraan ini, diharapkan pelaku UMKM di Samboja dan Samboja Barat dapat mengakses berbagai sumber daya yang diperlukan, mulai dari modal usaha, jaringan pemasaran, hingga teknologi produksi.
“Melalui kemitraan strategis, kita bisa membuka akses permodalan bagi UMKM, memfasilitasi pemasaran produk mereka ke pasar yang lebih luas, serta menyediakan peralatan dan teknologi produksi yang dapat meningkatkan kualitas produk UMKM. Ini akan memungkinkan UMKM kita bersaing dengan produk-produk dari luar daerah atau bahkan luar negeri,” ujar lulusan Program Doktoral Universitas Negeri Malang tersebut.
Sebagai contoh, ia mengusulkan kolaborasi antara UMKM dengan korporasi yang terlibat dalam pembangunan IKN. Hal ini dapat membuka peluang bagi produk-produk lokal untuk dipasarkan melalui jaringan distribusi yang sudah ada di perusahaan-perusahaan besar tersebut.

Forum Konsultasi dan Kolaborasi UMKM menghasilkan sejumlah rekomendasi penting yang diharapkan dapat diterapkan untuk mendukung pengembangan UMKM di Samboja dan Samboja Barat. Beberapa rekomendasi tersebut adalah: Penguatan Akses Permodalan, penting untuk membangun kemitraan antara UMKM dengan lembaga keuangan serta mengembangkan skema pembiayaan yang lebih ramah UMKM, seperti kredit dengan bunga rendah, pinjaman tanpa agunan, atau pembiayaan berbasis koperasi.
Dr. Indrayani yang juga merupakan Dosen di Universitas Balikpapan itu menegaskan bahwa keberhasilan pemberdayaan UMKM tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada keterlibatan aktif sektor swasta dan lembaga keuangan dalam menciptakan kemitraan yang saling menguntungkan. Ia berharap, Direktorat Pemberdayaan Masyarakat OIKN dapat terus berperan sebagai jembatan yang menghubungkan pelaku UMKM dengan peluang besar dalam pembangunan IKN. “UMKM adalah tulang punggung ekonomi daerah. Jika diberdayakan secara serius, maka pertumbuhan ekonomi di Samboja dan Samboja Barat akan melesat seiring berjalannya pembangunan IKN Nusantara,” pungkasnya.
Acara ini diakhiri dengan penutupan oleh Direktur Pemberdayaan Masyarakat, Conrita Ermanto. Dalam sambutannya, Conrita menyampaikan apresiasi atas antusiasme para pelaku UMKM yang hadir dalam forum ini, serta menggarisbawahi bahwa kemitraan antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha akan menjadi kunci dalam keberhasilan pembangunan IKN.

Forum ini menjadi langkah awal yang penting untuk membangun ekosistem usaha yang lebih kuat, inklusif, dan siap bersaing di era baru ekonomi IKN. Melalui kolaborasi yang erat antara berbagai pihak, diharapkan UMKM di Samboja dan Samboja Barat dapat memanfaatkan peluang yang ada dan berkontribusi dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di wilayah penyangga IKN Nusantara.

Dengan dukungan penuh dari pemerintah dan sektor terkait, pelaku UMKM di kawasan ini diharapkan dapat lebih siap menghadapi tantangan dan meraih peluang yang datang seiring dengan pembangunan Ibu Kota Negara yang baru.(alt)

