News Umum

Bahas Tentang AI, Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman Lakukan Wawancara di Kantor Mediasuara.com

Catatan : Alfian Tamzil

BALIKPAPAN—Barusan saja saya kedatangan tamu, anak dari sahabat saya Faisyal Tries Sumarna, yang bernama Chelsie Fairuz, mahasiswi semester dua, Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Mulawarman. Ia datang berdua rekannya Shafira, mahasiswa semester dua Fakultas Hukum di universitas yang sama di kantor saya, kawasan Gunung Sari No4 RT 18, Kecamatan Balikpapan Tengah, Jumat (27/03/2026).

Chelsie sengaja hadir ke kantor saya hanya untuk melakukan wawancara terkait mata kuliah yang sedang dijalaninya, yaitu tentang AI (Artificial Intelligence) atau sering disebut kecerdesan buatan. Sebagai jurnalis yang sudah cukup lama, saya pun juga baru mengenal AI. Berbeda di awal-awal saya menjadi wartawan di koran Samarinda Pos tahun 1998. Dahulu, wartawan menulis berita sama sekali tidak menggunakan AI dan memang zaman itu teknologi tidak seperti sekarang ini.

Ada banyak pertanyaan Chelsie yang diajukan kepada saya, diantaranya Etika Jurnalistik dan Tanggung Jawab Profesional. Verifikasi dan Kualitas Berita. Tekanan Redaksi. Konteks Lokal Kalimantan Timur. Teknanan Redaksi dan Konteks Lokal. Serta Refleksi dan Kutipan Kunci. Serta beberapa pertanyaan beberapa hal terkait kode etik dan AI itu sendiri.

Wawancara saya terhadap Chelsie terbilang cukup rumit juga, namun saya tetap mengatakan teknologi AI sangat mempermudah jurnalis mengolah berita. Namun sayang bagi saya hasil penulisan murni jurnalis seyogyanya murni ditulis tanpa menggunakan AI. “Boleh saja menggunakan AI, tapi tidak 100 persen diambil semua. Perlu diperhatikan dengan baik, kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Agar tidak ada kesalahan penulisan,” ujar saya kepada Chelsie.

Kendati saya sudah 28 tahun menjadi jurnalis. Saya pun tidak ahli-ahli benar membuat berita yang menarik. Bahkan sayapun cukup kesulitan membaca pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Chelsie.

Saya hanya memberikan arahan, bahwa teknologi AI, seperti chatgpt, memang sangat membantu di dalam mengolah berita. Namun sudah barang tentu bukan lagi hasil karya jurnalis itu sendiri secara murni.

Teknologi AI benar-benar luar biasa. Bisa merubah berita yang awalnya kurang bagus, menjadi sangat bagus. Begitu juga foto dan video juga bisa direkayasa melalui teknologi AI ini. Bahkan teknologi ini fotopun bisa dibuat menjadi video lengkap dengan suaranya, seolah-olah rekaman video beneran. Cukup sulit membedakan, apakah rekaman video itu murni rekaman atau hasil rekayasa AI. Benar-benar canggih luar biasa.

Saya jadi teringat Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., M.H., pakar hukum tata negara dan eks Ketua MK, yang sekarang menjabat sebagai Ketua Komisi Percepatan Reformasi Polri. Ia mengatakan, informasi di media sosial kebanyakan bohong. “Ada 80% informasi di media sosial adalah hoax,” ujarnya saat memberikan kuliah umum di kampus Universitas Balikpapan beberapa waktu lalu.

Dengan AI ini, munculah banyak informasi-informasi yang tidak akurat, bahkan cenderung mengarang. Dan lebih gila lagi, sudah merambah pada kejahatan Undang-undang ITE. Seperti wajah publik figure untuk mengajak berinvestasi atau membeli obat. Informasi ini selalu ada setiap menit di beranda media sosial. Wajahnya dirubah dari tokoh tokoh terkenal dan pejabat negara, mengajak warganet untuk berinvestasi atau membeli obat atau menyebar informasi yang tidak benar. Sungguh kelewatan dan tidak bisa dibendung lagi. Warganetpun juga sudah mengerti tentang hal ini, namun tidak sedikit warganet yang masih percaya.

Saya hanya berpesan kepada Chelsie, agar tetap membuat berita secara natural, silahkan menggunakan AI, namun itu sebagai pembanding saja. “Jangan seluruh hasil di chatgpt itu diambil seluruhnya, kemudian dipublish, jangan. Tetaplah menggunakan hasil tulisan dirimu sendiri. Chatgpt hanya pembanding saja, atau bisa juga dikutip beberapa saja,” kata saya kepada Chelsie

Dipenghujung wawancara, saya sempat menyampaikan pesan, bahwa antara junalis dan ilmuwan itu berbeda. Kalau ilmuwan menguasai banyak tentang satu hal. Namun kalau jurnalis sedikit tahu tentang banyak hal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *