BALIKPAPAN— Menjadi prajurit TNI sekaligus dokter spesialis kedokteran jiwa bukanlah perjalanan yang sederhana. Dibutuhkan dedikasi, ketekunan, dan empati dalam menjalankan tanggung jawab tersebut. Sosok itu adalah Kapten CKM dr. Hanifan Heru Nugrahadi Sp.KJ, seorang perwira TNI Angkatan Darat yang mengabdikan diri pada pelayanan kesehatan mental. Hal ini disampaikan Dokter Hanifan saat ditemui di ruang kerjanya di RS Dr. Hardjanto Balikpapan, Jumat (30/10/2026),
Dokter Hanifan berbagi cerita tentang perjalanan pendidikan, karier militer, hingga pengalamannya menangani berbagai persoalan kesehatan jiwa di lingkungan TNI AD maupun masyarakat umum.
Hanifan merupakan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto tahun 2016. Ketertarikannya terhadap dunia psikiatri mulai tumbuh ketika menjalani masa kepaniteraan klinik (koas) di RSUD Banyumas. Saat itu, ia berkesempatan melihat langsung berbagai kondisi pasien dengan gangguan kejiwaan yang kemudian mendorongnya mendalami bidang tersebut.

Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran, Dokter Hanifan mengikuti Seleksi Sekola Perwira Prajurit Karier (Sepa PK) khusus tenaga kesehatan pada 2016. Kemudian Ia dinyatakan lulus dan bergabung dengan TNI AD melalui Corps Kesehatan Militer (CKM).
Setelah resmi menjadi Perwira TNI AD, keinginannya memperdalam ilmu kesehatan jiwa tidak berhenti di sana. Pada Januari 2022, ia melanjutkan pendidikan Program Spesialis Kedokteran Jiwa di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Setelah menempuh pendidikan selama hampir empat tahun, ia resmi menyandang gelar dokter spesialis kedokteran jiwa pada Desember 2025.
Dalam menjalankan tugasnya sebagai psikiater, Dokter Hanifan menghadapi beragam persoalan kesehatan mental. Beberapa gangguan yang kerap ditemuinya antara lain bipolar, gangguan kecemasan, hingga gangguan kepribadian.
Menurutnya, gangguan bipolar merupakan kondisi yang ditandai perubahan suasana hati secara ekstrem. Penderitanya dapat mengalami fase manik atau hipomanik, yakni peningkatan energi, rasa percaya diri berlebihan, berkurangnya kebutuhan tidur, serta mudah tersinggung. “Pada kondisi berat, pasien bahkan dapat mengalami gejala psikotik, seperti mendengar suara atau bisikan yang sebenarnya tidak ada,” ujarnya.
Sebaliknya, pada fase depresi, pasien dapat mengalami kesedihan mendalam, kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari (anhedonia), serta penurunan energi. “Bahkan, jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat, kondisi tersebut berisiko memunculkan pikiran untuk mengakhiri hidup atau bunuh diri,” ujar pria kelahiran Purwokerto 10 Desember 1990 tersebut.

Selain bipolar, gangguan kecemasan atau anxiety disorder juga menjadi salah satu keluhan yang banyak ditemuinya selama bertugas di Balikpapan.”Selama saya bertugas di Balikpapan, pasien saya yang paling banyak adalah kecemasan berlebihan dan bipolar,” ungkapnya.
Dokter Hanifan juga menangani pasien dengan Borderline Personality Disorder, yaitu gangguan kepribadian yang dapat ditandai ketidakstabilan emosi, hubungan interpersonal yang bermasalah, perasaan hampa, serta perilaku impulsif. Dalam sejumlah kasus, kondisi tersebut dapat disertai perilaku menyakiti diri sendiri atau self-harm. “Bentuknya beragam, mulai dari mencabut rambut, merusak kuku, hingga melukai bagian tubuh seperti tangan dengan melukainya dengan benda tajam,” ujarnya.
Di luar gangguan tersebut, Dokter Hanifan juga menjumpai pasien dengan ketergantungan obat-obatan terlarang maupun zat adiktif lainnya. Kondisi ini terkadang muncul bersamaan dengan gangguan kejiwaan lain sehingga membutuhkan penanganan yang menyeluruh. Meski menghadapi persoalan yang kompleks, Dokter Hanifan menilai setiap pasien memiliki peluang untuk menunjukkan perkembangan positif apabila mendapatkan penanganan yang tepat.
Pendekatan persuasif, kesabaran, dan ketelatenan menjadi bagian penting dalam proses pemulihan bagi Dokter Hanifan. Pasien dengan depresi maupun bipolar, misalnya, dapat kembali menikmati aktivitas sehari-hari dan lebih mampu mengendalikan dorongan impulsif setelah menjalani penanganan secara komprehensif oleh Dokter Hanifan.
Bagi Dokter Hanifan, pelayanan kesehatan jiwa tidak hanya berkaitan dengan pemberian terapi medis, tetapi juga membangun kepercayaan dan memberikan ruang bagi pasien untuk memahami kondisi yang dialaminya.
Pengalaman Dokter Hanifan menjadi pengingat bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesehatan manusia secara menyeluruh. Persoalan kejiwaan membutuhkan perhatian, penanganan profesional, serta dukungan dan empati dari keluarga maupun lingkungan sekitar.
Di balik seragam militernya, Dokter Hanifan menjalankan pengabdian lain yang tidak kalah penting, yaitu membantu masyarakat umum dalam menghadapi persoalan kesehatan mental hingga pasien tersebut sehat dan mampu menjalani hidup normal, sebagaimana orang sehat pada umumnya.
Penulis : Alfian Tamzil


