BALIKPAPAN— Pengurus Daerah (PD) Kerukunan Bubuhan Banjar Kalimantan Timur (KBB-KT) Kota Balikpapan menggelar Musyawarah Daerah V dirangkai dengan Rapat Kerja Pemilihan Ketua PD KBBKT Kota Balikpapan, yang dilaksanakan ballroom Hotel Tiga Mustika, Minggu (27/09/2026).
Hadir pada acara ini diantaranya, Ketua Umum KBB-KT Dr. Ir. Irianto Lambrie beserta jajaran pengurus dan pengurus wilayah Provinsi Kaltim dan pengurus daearah Kota Balikpapan.
Dalam sambutannya, Iranto Lambrie menyampaian musyawarah Daerah KBB-KT Kota Balikpapan menjadi forum penting untuk menentukan arah organisasi, termasuk memilih ketua dan menyusun kepengurusan baru.
Dalam struktur organisasi KBB-KT, menurut Irianto Lambrie, kepengurusan berjalan secara berjenjang mulai dari tingkat daerah, provinsi, hingga pusat. Bahkan, organisasi Bubuhan Banjar telah berkembang hingga tingkat internasional dengan keberadaan komunitas Banjar di sejumlah negara, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Arab Saudi, Kuwait dan Taiwan. “Secara AD/ART, musyawarah daerah merupakan pengambilan keputusan tertinggi di tingkat daerah. Salah satu hasil utamanya adalah terpilihnya ketua dan pengurus baru, kemudian menyusun program kerja,” ujar Gubernur Kalimantan Utara periode 2016 – 2021 tersebut.
Menurut Irianto Lambrie, selain memilih kepengurusan baru, Musda V ini juga menjadi momentum untuk menyampaikan berbagai usulan dari daerah kepada pengurus wilayah sebagai bahan Musyawarah Wilayah (Muswil) KBB-KT.

Di Kalimantan Timur, kepengurusan KBB-KT telah terbentuk di sejumlah daerah, antara lain Balikpapan, Kutai Kartanegara, Berau dan Kutai Barat. Sementara pembentukan kepengurusan di Mahakam Ulu masih dalam proses.
Untuk pemilihan ketua, lanjut Irianto Lambrie, mekanisme yang digunakan terbuka dan demokratis. Sejumlah nama telah mendaftarkan diri sebagai calon ketua. Pemilihan dapat dilakukan melalui pemungutan suara apabila terdapat lebih dari satu calon. Namun, apabila hanya terdapat satu calon atau terdapat kesepakatan peserta Musda, pemilihan dapat dilakukan secara aklamasi.
Ketua terpilih nantinya juga akan dibantu tim formatur untuk menyusun struktur kepengurusan periode berikutnya. Masa jabatan kepengurusan KBB-KT saat ini ditetapkan untuk periode 2026 hingga 2030.
Lebih lanjut Irianto Lambrie menyampaikan, selain agenda organisasi di tingkat daerah, KBB-KT juga tengah mempersiapkan agenda organisasi di tingkat dunia. Pra-Kongres Bubuhan Banjar se-Dunia dijadwalkan berlangsung di Bogor pada 10 Oktober 2026. Agenda tersebut akan dilanjutkan dengan Kongres Bubuhan Banjar se-Dunia yang direncanakan berlangsung sekitar Desember 2026 atau Januari 2027.

Irianto Lambrie mengatakan, KBB-KT merupakan organisasi sosial kemasyarakatan, bukan organisasi politik. Karena itu, setiap anggota secara pribadi tetap memiliki hak untuk terlibat dalam politik dan bergabung dengan partai politik sesuai pilihan masing-masing. “KBB-KT tidak boleh berpolitik, namun jika anggotanya secara individu silakan saja, asal jangan membawa-bawa nama KBB-KT,” ujarnya
Begitu juga pengurus juga tidak diperkenankan menggunakan organisasi untuk mengarahkan dukungan politik kepada partai maupun calon tertentu. “Secara umum kita bukan organisasi politik, tetapi pengurus secara individu boleh berpolitik. Orang Banjar ada di berbagai partai. Itu hak individu. Yang tidak boleh adalah membawa atau mempolitisasi organisasi Bubuhan Banjar,” tegasnya.
Keberadaan masyarakat Banjar di Kalimantan Timur sendiri telah berlangsung sejak lama. Secara historis, masyarakat Banjar telah menjadi bagian dari perkembangan sosial, ekonomi dan budaya di daerah ini sejak berabad-abad lalu.

Warga Banjar juga berkontribusi dalam berbagai bidang, mulai dari perdagangan, UMKM, pemerintahan, pendidikan hingga politik. Banyak warga Banjar yang berkiprah sebagai pedagang dan pelaku usaha, maupun sebagai aparatur pemerintahan dan tokoh masyarakat.
Dalam konteks kependudukan, keberadaan masyarakat Banjar juga menjadi salah satu bagian dari keragaman etnis di Kalimantan Timur. Berdasarkan data masyarakat Banjar diperkirakan mencapai sekitar 21–22 persen dari penduduk Kalimantan Timur. Angka tersebut perlu disesuaikan dengan data statistik resmi apabila akan digunakan sebagai angka kependudukan dalam pemberitaan. “Jadi di Kaltim ini berdasarkan etnis, urang Banjar berada di posisi ke tiga. Yang pertama dari pulau Jawa dan ke dua dari pulau Sulawesi,” ujarnya.
Keragaman tersebut menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat Kalimantan Timur. Berbagai kelompok etnis, termasuk Jawa, Sulawesi, Banjar, Kutai, Dayak dan kelompok lainnya, telah hidup berdampingan serta berkontribusi dalam pembangunan di Kalimantan Timur selama berabad-abad.

Melalui Musda, KBB-KT Kota Balikpapan, Irianto Lambrie berharap, tidak hanya menghasilkan kepengurusan baru, tetapi juga merumuskan program kerja yang mampu memperkuat silaturahmi, kebersamaan dan kontribusi warga Banjar bagi masyarakat dan pembangunan Kota Balikpapan. “Ulun meminta kepada ketua dan pengurus baru nanti, agar tetap kompak dan saling rakat satu sama lain,” pungkasnya.


