News Opini

Dari Guadalajara hingga Tijuana: Ketika Saya Menyaksikan Betapa Sulitnya Dunia Melawan Mafia Narkoba

Oleh: Dr. Ir. H. Irianto Lambrie, M.M.
Ketua Umum Badan Pengelola Islamic Center (BPIC) Kalimantan Timur

Setiap negara memiliki tantangan yang berbeda-beda. Ada yang berjuang melawan kemiskinan, ada yang menghadapi konflik politik, ada pula yang bergelut dengan bencana alam. Namun ada satu persoalan yang tampaknya menjadi musuh bersama seluruh umat manusia, yaitu narkoba.

Selama puluhan tahun, hampir semua negara di dunia telah mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk memberantas peredaran narkotika. Amerika, Eropa, Asia, Afrika hingga Australia sama-sama menghadapi persoalan ini. Ironisnya, semakin keras perang terhadap narkoba dilakukan, jaringan peredarannya justru semakin canggih dan semakin sulit diberantas.

Mengapa demikian?

Jawabannya sederhana, tetapi sangat mengkhawatirkan. Di balik bisnis haram tersebut berdiri organisasi-organisasi mafia yang memiliki struktur sangat rapi, modal nyaris tak terbatas, teknologi modern, serta jaringan internasional yang luas. Mereka tidak hanya mengendalikan jalur perdagangan gelap, tetapi dalam banyak kasus juga mampu menyusup ke berbagai institusi melalui praktik suap, korupsi, bahkan kedekatan dengan oknum pejabat.

Bahkan di beberapa negara, bukan lagi menjadi rahasia umum bahwa bos-bos mafia narkoba ikut menjadi penyandang dana dalam berbagai kontestasi politik. Mereka membutuhkan perlindungan, sementara sebagian elite membutuhkan dana. Hubungan saling menguntungkan seperti inilah yang membuat perang terhadap narkoba menjadi semakin rumit.

Pengalaman pribadi saya beberapa tahun lalu semakin membuka mata mengenai besarnya persoalan tersebut.

Pada tahun 2016 saya memperoleh kesempatan menghadiri sebuah konferensi internasional di Kota Guadalajara, ibu kota Negara Bagian Jalisco, Meksiko. Saya hadir sebagai salah seorang pembicara dalam forum yang diikuti sekitar 200 gubernur, kepala daerah, dan perwakilan berbagai negara anggota organisasi internasional yang bergerak dalam pelestarian hutan, lingkungan hidup, dan pencegahan perubahan iklim global.

Kalimantan Timur bersama Kalimantan Utara merupakan bagian dari organisasi tersebut. Bahkan ketika saya masih menjabat sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur bersama Gubernur Awang Faroek Ishak, kami ikut merintis keikutsertaan Kalimantan Timur sehingga menjadi salah satu penggagas organisasi tersebut.

Alhamdulillah, kerja sama internasional yang dibangun saat itu kemudian memberikan manfaat nyata. Pada masa pemerintahan Gubernur Isran Noor, Kalimantan Timur berhasil memperoleh insentif karbon senilai sekitar Rp85 miliar sebagai bentuk penghargaan atas keberhasilan menjaga kawasan hutan.

Namun di balik kesuksesan forum internasional itu, saya juga menyaksikan sisi lain dari Meksiko yang selama ini hanya saya ketahui melalui berita dan film.

Meksiko dikenal sebagai salah satu negara penghasil sekaligus jalur utama perdagangan narkoba terbesar di dunia. Kartel-kartel narkoba memiliki kekuatan yang luar biasa. Mereka bukan sekadar kelompok kriminal biasa, melainkan organisasi dengan kemampuan finansial, persenjataan, dan jaringan yang sangat kuat.

Berbagai informasi yang berkembang menyebutkan bahwa sebagian tokoh pemerintahan, mulai dari tingkat lokal hingga nasional, pernah terseret dalam pusaran hubungan dengan jaringan kartel. Tidak sedikit pula aparat penegak hukum yang menjadi korban karena berani melawan mereka.

Suasana di Guadalajara maupun ketika saya singgah di Mexico City memberikan kesan tersendiri. Sebagai tamu, tentu saya tetap merasa aman karena seluruh kegiatan konferensi mendapat pengamanan yang sangat baik. Namun atmosfer kewaspadaan terasa begitu kuat. Cerita mengenai kekejaman kartel narkoba bukanlah sekadar cerita dalam film, melainkan bagian dari kenyataan yang hidup di tengah masyarakat.

Pengalaman lain yang tidak kalah menarik saya rasakan ketika beberapa kali mengunjungi Kota Tijuana, yang berbatasan langsung dengan San Diego, California, Amerika Serikat.

Putri kedua saya bersama suami dan kedua anak mereka telah menetap di San Diego sejak tahun 2012. Dari kota tersebut menuju perbatasan Meksiko hanya memerlukan waktu sekitar satu jam perjalanan menggunakan mobil.

Di kawasan perbatasan itu, pemerintah Amerika Serikat membangun berbagai pusat perbelanjaan dan outlet besar. Banyak warga Meksiko datang untuk berbelanja. Hubungan kedua negara dalam aspek tertentu memang cukup terbuka. Pemegang visa Amerika Serikat relatif mudah memasuki wilayah Meksiko sesuai ketentuan yang berlaku.

Saya sendiri telah beberapa kali melewati kawasan tersebut. Kesan pertama yang muncul adalah kawasan itu terasa tertib, nyaman, dan aman. Amerika Serikat membangun tembok pembatas yang sangat tinggi dan kokoh membentang sepanjang sebagian besar wilayah perbatasannya dengan Meksiko. Pengawasannya juga dilakukan secara ketat oleh aparat kepolisian dan militer.

Melihat sistem pengamanan seperti itu, kita mungkin beranggapan hampir mustahil barang-barang ilegal dapat lolos.

Tetapi kenyataannya tidak demikian.

Berbagai pemberitaan menunjukkan bahwa narkoba tetap saja berhasil diselundupkan ke wilayah Amerika Serikat. Jumlahnya bukan lagi kilogram, tetapi bisa mencapai ratusan kilogram bahkan berton-ton. Modusnya terus berkembang, mulai dari terowongan bawah tanah, kendaraan yang dimodifikasi secara khusus, hingga berbagai cara lain yang sulit dibayangkan masyarakat awam.

Fakta ini menunjukkan bahwa perang melawan narkoba bukan sekadar persoalan membangun pagar yang tinggi atau memperbanyak aparat keamanan. Selama permintaan pasar masih besar dan keuntungan bisnis ini mencapai miliaran dolar, selalu akan ada cara baru yang ditemukan oleh para pelaku kejahatan.

Di sisi lain, saya juga melihat kehidupan masyarakat keturunan Meksiko di Amerika Serikat sangat beragam. Banyak yang berhasil menjadi warga negara Amerika Serikat dan hidup sejahtera, memiliki usaha, bekerja secara profesional, bahkan menjadi bagian penting dari pembangunan ekonomi. Namun tidak sedikit pula yang hidup dalam kemiskinan dan menjadi tunawisma atau homeless, terutama di beberapa kawasan kota besar seperti San Diego maupun Los Angeles.

Perjalanan-perjalanan tersebut memberikan pelajaran berharga bagi saya.

Bahwa persoalan narkoba sesungguhnya bukan hanya masalah hukum. Ia berkaitan erat dengan pendidikan, kemiskinan, keluarga, moral, ekonomi, hingga tata kelola pemerintahan yang bersih. Ketika integritas aparat melemah dan masyarakat kehilangan harapan, jaringan narkoba akan selalu menemukan ruang untuk berkembang.

Karena itu, perang melawan narkoba tidak boleh hanya dibebankan kepada aparat penegak hukum. Keluarga harus menjadi benteng pertama. Sekolah harus menjadi tempat pembentukan karakter. Tokoh agama perlu terus menguatkan nilai-nilai moral dan spiritual. Pemerintah wajib membangun sistem yang transparan dan bebas dari korupsi. Masyarakat pun tidak boleh bersikap acuh terhadap lingkungan sekitarnya.

Sebagai bangsa yang religius, kita patut bersyukur bahwa Indonesia masih memiliki modal sosial yang kuat berupa nilai-nilai agama, budaya gotong royong, dan kepedulian masyarakat. Modal inilah yang harus terus dipelihara agar generasi muda kita tidak menjadi korban maupun pelaku dalam lingkaran gelap perdagangan narkoba.

Perjalanan saya ke Meksiko dan kawasan perbatasan Amerika Serikat-Meksiko mengajarkan satu hal penting: mafia narkoba dapat memiliki uang, senjata, bahkan pengaruh politik, tetapi mereka tidak akan pernah mampu mengalahkan masyarakat yang memiliki iman, integritas, pendidikan yang baik, serta kepedulian untuk saling menjaga.

Di situlah sesungguhnya benteng pertahanan terkuat sebuah bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *