BALIKPAPAN—Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental, sosok Letkol CKM Dr dr Ragu Raman Sp.KJ menjadi salah satu dokter jiwa yang banyak diperbincangkan di Balikpapan. Dikenal ramah, rendah hati, dan peduli terhadap pasien kurang mampu, ia telah membantu ribuan orang bangkit dari gangguan kecemasan, insomnia, depresi, hingga ketergantungan narkoba.
Kariernya dimulai pada 2012 bulan April di Rumah Sakit Dr Hardjanto atau yang akrab disebut Rumah Sakit Tentara (RST) Balikpapan. Saat itu ia masih berpangkat Kapten dari Corps Kesehatan Militer (CKM). Di rumah sakit tersebut, dr Ragu banyak menangani pasien dengan kasus ketergantungan narkoba, bahkan beberapa di antaranya dengan komplikasi HIV.
Seiring waktu, namanya semakin dikenal luas. Pasien yang datang tidak hanya dari kalangan menengah ke atas, tetapi juga masyarakat kecil yang kesulitan biaya berobat. Bagi dr Ragu, kondisi ekonomi bukan penghalang untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa. “Saya dulu sering gelisah dan sulit tidur. Alhamdulillah sekarang sudah sembuh. Saya berobat gratis karena tidak punya biaya,” ujar Nur, seorang wanita paruh baya yang rutin menjalani pengobatan.
Tak hanya menggratiskan biaya konsultasi, dr Ragu bahkan pernah membantu pasien mengurus administrasi BPJS agar dapat berobat tanpa beban biaya. Salah satunya dialami Alimin, yang selama empat tahun terakhir rutin kontrol tanpa mengeluarkan biaya. “Kalau bukan Dokter Ragu, mungkin saya kesulitan berobat karena memikirkan biaya. Beliau sendiri yang membantu mengurus BPJS saya,” ujarnya.

Selain bertugas di RST, dr Ragu juga membuka praktik malam di Apotek Anda, Klandasan. Setiap harinya, tempat praktiknya hampir tak pernah sepi. Banyak pasien mengaku merasa “cocok” dengan pendekatan terapi yang ia berikan. Ia tidak hanya meresepkan obat, tetapi juga memberikan penjelasan yang mudah dipahami serta dukungan psikologis yang menenangkan.
Lulusan Program Spesialis Kedokteran Jiwa Universitas Padjadjaran ini dikenal memiliki pendekatan yang komprehensif dalam menangani pasien. Ia memahami bahwa gangguan fisik seperti asam lambung (GERD) sering kali dipicu oleh faktor kecemasan. “Saya sempat berobat maag tapi tidak sembuh-sembuh. Setelah konsultasi, ternyata dipicu kecemasan. Setelah ditangani Dokter Ragu, kondisi saya membaik,” kata Stevanus, salah satu pasiennya, seorang pengusaha di Balikpapan.
Tak berhenti di bidang kedokteran, dr Ragu juga baru saja meraih gelar Doktor dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trisakti. Meski memiliki latar belakang akademik yang mumpuni dan dikenal luas, ia tetap tampil sederhana dan enggan membicarakan pencapaiannya. “Niat saya hanya ingin menolong orang, terutama yang tidak mampu. Soal berapa banyak yang sudah dibantu, saya sendiri sudah lupa,” ujarnya saat ditemui media ini di ruang praktiknya, Kamis (26/02/2026).
Dedikasi dan kepeduliannya menjadikan dr Ragu bukan sekadar dokter, melainkan sosok pengabdian. Di tengah stigma terhadap gangguan kesehatan jiwa, ia hadir memberikan harapan, bahwa setiap orang berhak sembuh dan mendapatkan pertolongan. Baginya, selama masih diberi kesempatan dan kemampuan, ia akan terus membuka praktik dan membantu siapa pun yang membutuhkan.
Penulis : Alfian Tamzil


