BALIKPAPAN—Pakar sekaligus praktisi hipnotist kenamaan Pandu Dewa Nanta menggelar One Day Workshop Hypnotist yang dilaksanakan di Hotel Horison Ultima, Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, Minggu (2/8/2026).
Pada training kali ini hadir 30 peserta dari berbagai kalangan, untuk mengikuti kegiatan yang memang jarang digelar tersebut.
Menurut Pandu, Hipnotist masih kerap dipahami masyarakat sebagai kondisi ketika seseorang kehilangan kesadaran dan sepenuhnya berada di bawah kendali orang lain. Padahal, pemahaman tersebut tidak sepenuhnya tepat.

Dalam pembelajaran hipnotist, pemahaman justru dimulai dari hal-hal fundamental. Peserta dikenalkan terlebih dahulu mengenai apa itu hipnotist, bagaimana prosesnya bekerja, hingga cara mengenali dan menghindari penyalahgunaan hipnotist, termasuk yang berkaitan dengan tindak kejahatan. “Hipnotis itu bukan berarti tidak sadar. Orang yang berada dalam kondisi hipnotis masih bisa merasakan dan menyadari, tetapi fokus pikirannya dapat diarahkan,” jelas Pandu.
Menurutnya, kondisi hipnotist berkaitan dengan keadaan ketika seseorang menjadi lebih rileks dan fokus. Kondisi tersebut kemudian dapat dimanfaatkan dalam proses hipnoterapi untuk membantu seseorang menangani persoalan tertentu yang berkaitan dengan kesehatan, pikiran, emosi, maupun kebiasaan.
Dalam pembelajaran hipnoterapi, sejumlah metode juga diperkenalkan, di antaranya Emotional Freedom Technique (EFT), Tapas Acupressure Technique (TAT), serta teknik-teknik hipnoterapi.
Pandu menjelaskan, salah satu konsep yang diperkenalkan dalam hipnotist adalah bagaimana pikiran bawah sadar dapat memberikan respons terhadap sugesti dan pengalaman yang diterima seseorang.
Hal tersebut dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang, misalnya, dapat menangis atau merasa sangat sedih ketika menyaksikan adegan dalam film, meskipun mengetahui bahwa cerita tersebut hanyalah fiksi. “Kenapa kita tetap menangis atau terharu? Karena kita masuk dalam kondisi trans, saat menyaksikan drama di televisi,” ujarnya.
Ia juga mengaitkan kondisi tersebut dengan aktivitas gelombang otak, khususnya kondisi alfa dan theta yang sering dikaitkan dengan keadaan relaksasi, meditasi, dan fokus mendalam.

Dalam praktiknya, hipnoterapi tidak hanya dilakukan oleh seorang terapis terhadap klien. “Seseorang juga dapat mempelajari self-hypnosis, yakni teknik untuk membantu dirinya sendiri mengelola pikiran dan respons terhadap berbagai situasi,” ujar Pandu yang sudah menggeluti dunia hipnoterapi sejak tahun 2009 silam
Meski demikian, hipnoterapi lebih tepat dipandang sebagai terapi pendamping, bukan pengganti pemeriksaan maupun pengobatan medis. Penggunaan teknik hipnotis harus dilakukan secara bertanggung jawab dan oleh orang yang memiliki kompetensi yang memadai.
Pandu mengaku mulai mempelajari ilmu hipnosis sejak 2007. Dua tahun kemudian, pada 2009, ia mulai membuka kelas pembelajaran bersama timnya. “Dari 2009 sampai sekarang, kurang lebih sudah 17 tahun. Sudah ada ribuan peserta yang mengikuti trainingnya,” ujarnya.
Pembelajaran hipnotist, menurutnya, pada akhirnya bukan sekadar tentang bagaimana memengaruhi orang lain, tetapi juga bagaimana seseorang memahami cara kerja pikiran, mengenali sugesti, melindungi diri dari penyalahgunaan hipnosis, serta belajar mengelola pikirannya sendiri.
Usai mengikuti workshop, seluruh peserta mengaku merasa puas. Sebab metode workshop ini dilakukan secara langsung dan dipraktikkan secara langsung pula. “Saya merasa senang mengikuti workshop ini. Selain mendapat pengetahuan, saya juga bisa mengendalikan diri saya, mengobati diri saya serta keluarga saya,” ujar Benny, salah seorang peserta. (alt)

