Hukum

Merasa Dipalsukan Tandatangannya, Tan Drama Pengusaha Tambang Batu Bara Tempuh Jalur Hukum

BALIKPAPAN—Pengusaha tambang batu bara bernama Tan Drama terpaksa menempuh jalur hukum, pasalnya dirinya merasa dirugikan akibat terbitnya surat permohonan pembatalan dan revisi terhadap IUP-OP dari PT Integra Prima Coal dengan menggunakan kop surat perusahaan tersebut lengkap dengan tanda tangannya yang diduga dipalsukan oleh oknum yang bernama Ir Mario Ronaldo Samuel Dumais alias  Mario.

Tan Drama merasa dirugikan sebab tandatangannya dipalsukan itu sangat merugikan dirinya. Menurutnya, PT Integra Prima Coal awalnya adalah miliknya yang didirikan pada tahun 2006 sesuai dengan akte pendirian Notaris B Andy Widyanto No 17 Tanggal 29 September 2006.

Namun seiring berjalan waktu, PT Integra Prima Coal sahamnya dijual atau dilakukan pelepasan hak kepada PT Kutai Integra Indonesia dan atas nama Irwan Baramuli. Hal ini ditandai dengan penerbitan Akta Pernyataan Keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa oleh Notaris B Andy Widyanto SH dengan surat nomor 6 Tanggal 18 Agustus 2014.

Sejak pelepasan hak ini, Tan Drama dan pemegang saham lainnya (Mulyadi) praktis sudah tidak terlibat lagi di dalam kepengurusan maupun segala bentuk kegiatan yang ada di dalam PT Integra Prima Coal. “Sejak itu saya sudah melepaskan seluruh wewenang saya di perusahaan itu kepada PT Kutai Integra Indonesia dan Irwan Baramuli, dalam hal ini sudah berada di bawah pimpinan Irwan Baramuli,” ujar Tan Drama.

Namun sekitar bulan Desember tahun 2019 yang lalu, Irwan Baramuli ingin meningkatkan status perusahaannya. Namun dalam proses peningkatan status perusahaan tersebut perusahaaan ini mendapatkan hambatan. Hambatan itu adalah ditemukannya surat Permohonan Pembatalan dan Revisi terhadap IUP-OP dari PT Integra Prima Coal dan ditandatangani oleh Tan Drama selaku pemilik perusahaan. Namun menurut Tan Drama surat permohonan pembatalan itu dinyatakan palsu. Dan kop surat serta tandatangan di surat kuasa tersebut juga dipastikan palsu. “Bagaimana mungkin saya melakukan itu, kan perusahaan itu sudah saya jual sahamnya sepenuhnya kepada Irwan Baramuli tahun 2014 lalu. Otomatis saya kan tidak punya hak apa apa lagi. Namun anehnya kenapa ada surat tersebut muncul. Padahal saya tidak pernah melakukan itu. Dan saya yakin surat itu palsu. Kop suratnya palsu dan tanda tangan saya juga dipalsukan,” papar Tan Drama.

Setelah terbitnya surat Permohonan Pembatalan dan Revisi terhahadap IUP-OP dari PT Integra Prima Coal dengan nomor: PT IPC No 9/IPC/XII/2019. Kemudian akibat adanya surat tersebut, terbit Akta dan Penetapan berupa Akta Notaris Martina SH Nomor 31 Tanggal 21 September 2018. Dan penetapan Pengadilan Tata Usaha Negara Samarinda No: 2/PEN-JS/FP/2020/PTUN/SMD.

Merasakan dirugikan, Tan Drama akhirnya mengambil langkah dengan menggandeng Lembaga Bantuan Hukum bernama Panji Keadilan Mulia Agung Perkasa (LBH PKMAP). Salah satu diantara kuasa hukumnya itu adalah salah seorang purnawirawan perwira tinggi Polri yaitu Brigadir Jenderal Polisi (P) Drs ADV Siswandi. Bersama lembaga bantuan hukum inilah Tan Drama pun menempuh jalur hukum dengan mengirim surat sanggahan atas surat somasi kepada Gubernur Provinsi Kalimantan Timur, CQ-Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Kaltim tertanggal 5 Maret 2020. Lalu Surat Pemberitahuan Pemalsuan Surat Permohonan Gugatan atas nama PT Integra Prima Coal terhadap Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Kalimantan Timur tertanggal 6 Maret 2020. Dan dalam waktu dekat Tan Drama juga berencana untuk membuat laporan polisi ke Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kalimantan Timur tentang pemalsuan tandatangan dirinya.

Ia kembali menyampaikan bahwa, di akhir bulan Januari tahun 2020 ini, pemilik  PT Integra  Prima coal ingin memperpanjang ijin operasi produksi. Nah, pada saat pengurusan izin di PTSP, Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Kaltim, ada surat yang mengatasnamakan Tan Drama. “Jadi intinya surat itu memohon kepada gubernur, CQ Kantor PTSP untuk permohonan PT Integra Prima Coal dibatalkan. Tapi surat itu palsu. Jadi nama saya, tanda tangan dan kop suratnya semua palsu. Pokoknya beda sekali dengan tandantangan saya. Surat itu terbit Desember 2019, kalau ga salah 3 Desember.” beber Tan Drama lagi.

Dengan adanya surat kuasa palsu itu, menurut Tan Drama pemilik PT Integra Prima Coal yang baru tersebut akhirnya ga bisa untuk meningkatkan izinnya. Sebab harus melalui persidangan di PTUN Samarinda. Dari sini menurut Tan Drama banyak hal yang baru lagi. “Jadi ada keluar surat kuasa dari kami bertiga selaku pemilik yang lama, yaitu saya, Mulyadi dan Ebenneser yang memberikan kuasa kepada Mario pada tahun 2010 dan dilegalisir oleh Notaris. Tapi itu palsu semua. Tanda tanganganya beda semua. Nah, pada saat kami kirim somasi, si Notaris sudah merasa ketakutan sekali. Padahal kita ga pernah ketemu notarisnya,” imbuhnya.

Menurut Tan Drama, dirinya merasa dirugikan atas kejadian ini dengan adanya surat kuasa palsu itu. Sebab ia mengatakan bahwa dirinya bersama dua rekannya sebagai pemilik PT Integra Prima Coal menjadi korban surat kuasa palsu yang dilakukan oleh Mario. “Yang isinya itu kami bertiga selaku pemilik perusahaan yang lama memberikan surat kuasa kepada Mario. Dan itu kami laporkan pemalsuan. Karena memang surat kuasanya benar benar palsu,” imbuhnya.

Lebih lanjut Tan Drama juga menyampaikan tentang Surat Kuasa untuk Pengadilan Tata Usaha Negera (PTUN) Samarinda yang juga diduga palsu yang dilakukan oleh oknum Mario. Tan Drama mengaku, bahwa dirinya dengan Mario hanya sebatas tahu dan tidak mengenal lebih jauh tentang Mario. “Karena kan di lokasi tambang Integra itu ada kelompok tani. Pada saat perusahaan melakukan sosialisasi Nah, Mario inilah salah satu anggota kelompok tani itu,” ujarnya.

Ir Mario Ronaldo Samuel Dumais alias  Mario

Ia merasa khawatir, dengan adanya surat kuasa palsu itu dan apabila penuntutan ini berjalan dan menang di PTUN Samarinda, menurut Tan Drama hal ini harus kembali lagi ke awal. “Ia kita nanti khawatirnya, kalau penuntutan ini jalan dan menang di PTUN. Berarti itukan harus kembali lagi ke pemilik lama. Sedangkan pemilik lama inikan si Mario buat surat kuasa palsu, yang memberikan kuasa kepada dia untuk menjual dan hal hal yang lainnya. Berartikan keuntungan di dia nanti. Bahaya sekalikan ini,” ujarnya.

Tan Drama bahkan beberapa kali mengatakan, sejak perusahaannya dijual pada tahun 2014 silam sudah tidak ada masalah lagi. “Jadi ketika saya jual perusahaan kami itu. Semua clear. Sudah tidak ada apa apa lagi,” paparnya.

Namun tiba tiba akhir bulan Januari 2020 lalu, Tan Drama dilaporkan terkait dengan surat kuasa yang dilakukan Mario. Di sini Tan Drama dengan tegas mengatakan bahwa surat kuasa itu palsu. “Waduh, saya liat di surat kuasa itu tanda tangan saya salah nih. Palsu nih. Kemudian ada keluar lagi surat kuasa dari kami bertiga pemilik Integra yang lama, yang awal, Mulyadi dan Ebben Hesser memberikan kuasa kepada Mario. Dan itu palsu semua. Dan notarisnya sudah kita somasi sudah ketakutan sekali tuh. Tapi dia bilang kami bertiga tidak pernah ketemu dengan ibu notaris, bagaimana ibu bisa klarifikasi kalau itu kami. Dan tandatangannya beda semua,” kata Tan Drama lagi.

PT Integra Prima Coal ini sendiri berdiri dari tahun 2008. Di mana pemegang sahamnya ada 3 orang. Diantaranya Tan Drama, Muliadi dan Emben Neser (almarhum) yang berlokasi Loa Kulu dan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara. Dan, pada tahun 2014 izinya dijual kepada Irwan Baramuli dan PT Kutai Integra Indonesia. Jadi saat dijual pemegang sahamnya ada semua. Sehingga saat dijual sama sekali tidak ada masalah dalam melakukan transaksi penjualan izin tambang kala itu.

Sejumlah Purnawirawan Jenderal Polisi Dampingi Tan Drama

Dengan adanya kasus yang menimpa Tan Drama, Lembaga Bantuan Hukum Panji Keadilan Mulia Agung Perkasa (LBH PKMAP) yang berkantor di Jalan Gunawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan turut mendampingi masalah ini.

LBHG PKMAP melayangkan Somasi atau Surat Peringatan Ke Dua kepada Ir Mario Ronaldo Samuel Dumais alias Mario bernomor 019/III/PKMAP/2020 Tanggal 17 Maret 2020. Surat Somasi itupun juga ditembuskan ke Gubernur Kalimantan Timur dan Kapolda Kalimantan Timur. Dalam Surat Somasi tersesbut salah satunya disebutkan di poin nomor 2 yang isinya, bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas, klien kami juga tidak pernah memberikan kuasa kepada siapapun, baik dalam bentuk tertulis maupun lisan untuk mewakili melakukan tindakan-tindakan hukum, termasuk kepada Saudara Ir Mario Ronaldo Samuel Dumais. (surat somasi terlampir).

Menariknya, dalam surat somasi yang ditujukan kepada Ir Mario Ronaldo Samuel Dumais, ternyata para Kuasa Hukum Tan Drama merupakan sejumlah purnawirawan Perwira Tinggi di Kepolisian. Diantaranya : Irjen Pol (P) DR Anas Yusuf, Irjen Pol (P) ADV Drs Harwiyanto SH M.Hum, Brigjen Pol (P) ADV Drs Siswandi, Brigjen Pol (P) ADV Drs Anthoni Hutabarat, Brigjen Pol (P) ADV Drs Rusman serta sejumlah pengacara lain diantaranya, ADV Drs Firman Hutabarat SH, Wardaniman Larosa, SH MH CLA, Ahmad Hasni Fahmi SH CLA, Richard Yonathan Nelwan SH MH, Timbul Jaya SH dan Pipin Carolina Barus SH.

Penulis : ALT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *