Selayaknya orang yang berulang tahun, marilah rayakan. HUT Kota Balikpapan ke-122, tentu tidak dilewatkan para pengkarya seni di kota ini, untuk ikut merayakan. Memberi kado untuk kotanya. Namun kado ini berbeda karena ini adalah wujud cinta kami kepada kota, melalui cara kami.

Tidak dengan dengan ingar bingar, atau mendapat kucuran APBD, cara kami bergerak mewujudkan kado ini. Namun dengan apa yang memang kami jalani, yakni jalan berkesenian. Kami mempersembahkan hasil karya kami, untuk dinikmati masyarakat kota ini.

Ini adalah bentuk sinergi, tanpa sekat tanpa jarak. Hanya berawal dari intensitas bertemu, menyamakan isi kepala, mengerucutkan kegelisahan, dan akhirnya mencoba bergerak bersama. Nol rupiah, biayanya, ketika sinergi terjalin.

Menghelat acara seni di Balikpapan, tidak bisa berharap banyak ada kepedulian pemerintah. Gedung Kesenian terasa dekat tapi jauh bagi kami. Dekat secara lokasi, jauh secara isi dompet, saking mahalnya biaya sewa.

Nyaris tidak ada ruang yang mudah dan murah bagi seniman. Namun marwah sebagai seniman adalah terus berkarya. Eksistensi diri, berpadu dengan keresahan untuk memercikkan geliat seni di kota ini, yang terasa kurang.

Dengan Nol Rupiah, kami bisa. Ruang akan kami ciptakan. Aksi sosial keprihatinan terhadap bencana gempa yang kami gelar, akhir Desember 2018 lalu, membuktikan kekuatan sinergi itu. Acara spontan itu menjadi acara kolaborasi seni lintas genre terbesar di Balikpapan.

Selanjutnya Januari 2019 lalu, kami bersama menggelar pameran Sinergi di Lemari Seni Balikpapan, yang berbiaya dari hasil patungan. Dan sekian banyak pertolongan. Berhasil juga kami langsungkan pameran seni, sesuatu yang sangat langka di kota ini.

Perlu diketahui pula, Balikpapan tidak punya galeri seni satu pun. Padahal ada banyak potensi seni, dan seniman di kota ini. Bolehlah Balikpapan adalah kota industry dan jasa. Namun tanpa warna seni, kota ini tidak berwarna.

Maka dari itu, menyambut momentum HUT Kota Balikpapan ke-122 yang jatuh 10 februari 2019 besok, maka kami juga berpartisipasi. Menggelar serangkaian pertunjukan seni, sehari sebelumnya, Sabtu 9 Februari 2019, di Taman 3 Generasi pukul 17.00-malam.

Beberapa yang bakal berpartisipasi dalam acara itu nanti, adalah Sape Ansamble Balikpapa Society (SABS), Teater Junjung Nyawa, Sanggar Seni Atap Jerami, Borneo Boi (hiphop), Wildest Dream Project, Ammo Prahara Novia, hingga Stand Up Comedy Balikpapan.Juga sejumlah perupa, dan mereka yang bergerak di ranah seni kreatif.

Dan tak ketinggalan, beberapa pelajar SMA/SMK penggemar vidiografi yang membuat video singkat berdurasi 1 menit 50 detik tentang geliat seni di Balikpapan. Ini kegelisahan para pengkarya yang ingin mengungkapkan bahwa Balikpapan punya sisi lain : seni dan budaya.

Abi Ramadan Noor, Ketua Forum Kreatif Usaha Sama-sama (Fokus) Balikpapan mengatakan, kekuatan sinergi antarseniman, membuat ketidakmungkinan menjadi mungkin. Ketika seniman terbentur masalah, maka berkesenian adalah jalannya.

Mengritik pemerintah daerah yang belum terlihat kepeduliannya kepada seniman, tidak dengan demonstasi. Namun dengan karya. Itulah jati diri seniman. “Akan ada banyak tangan menolong. Kami percaya itu,” kata Abi.

Eko, dari Sanggar Atap Jerami, mengutarakan, pertunjukan ini diharapkan membawa kemajuan geliat seni di Balikpapan. “Kado ini kami persembahkan untuk Balikpapan, membuktikan kualitas seniman Balikpapan sangat potensial dalam mendukung kemajuan kota,” kata Eko.

Yudi Pratama, Pendiri Teater Junjung Nyawa menyebut, menumbuhkan geliat seni tidak mudah. Di Balikpapan, misalnya, teater umum hanya satu, yakni Junjung Nyawa. Menjangkau Gedung Kesenian Balikpapan, terasa susah di kantong. Namun ruang harus tetap ada. “Kami ciptakan ruang, dan kesempatan sendiri,” kata Yudi.

Mengangkat Balikpapan dari sisi seni dan budaya, menurut Riqki dan Riandy yang membuat video “Kado Untuk Balikpapan”, adalah hal menarik. Ini tentang mengangkat sesuatu yang mungkin tidak terlihat atau diketahui masyarakat. Hasil karya mereka, Sabtu malam nanti akan diputar di Taman 3 Generasi.

Mr Gamayel, komika nasional kebanggaan Balikpapan, yang menggawangi Stand Up Comedy Balikpapan, memahami keresahan seniman di kota ini. Tidak banyak perhatian pemda, apresiasi seni yang masih rendah, namun tetap bersemangat dalam berkarya.

#bukanrangkaianhutkota #bingungcarilokasi #jangankapokbergerak

Sumber : Adi Pras

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here